: Memuji kekasih-kekasih Allah sebelum menyampaikan hajat pribadi menunjukkan kerendahan hati seorang hamba.
Contoh ringkas siap cetak: "اَعُوذُ بِاللَّهِ ... بِسْمِ اللَّهِ ... اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ... اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ... يا اللهُ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِوَسِيلَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ... (sebut hajat) ... رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ..." bacaan tawasul lengkap nu pdf
Mendoakan para ulama penyebar Islam di tanah Jawa (Walisongo) serta para pendiri Nahdlatul Ulama seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, Syekh Wahab Chasbullah, dan Syekh Bisri Syansuri. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) yang diikuti oleh NU, tawasul bukanlah meminta doa kepada selain Allah. Hakikat tawasul adalah memohon kepada Allah SWT dengan bertawasul melalui kesalehan, kehormatan, dan derajat para nabi, wali, serta amal saleh di sisi-Nya. (sebut hajat)
: Using one's own righteous deeds (like honesty or serving parents) as a bridge for prayer.
Ulama NU berpegang pada prinsip bahwa doa dengan tawasul kepada para nabi, wali, dan orang sholeh—baik semasa hidup maupun setelah wafat—hukumnya secara syariat. Hal ini didasarkan pada keterangan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidiin karya Syekh Abdurrahman bin Muhammad al-Ba‘lawi serta dalil-dalil sahih lainnya.
Merujuk pada penjelasan para ulama, setidaknya terdapat tiga macam tawasul yang dikenal secara luas: